Pemanfaatan Business Intelligent di Dunia Pendidikan Sebagai Counseling Support untuk Siswa Sekolah Dasar

Business Intelligent

Business Intelligent

ABSTRAKSI

Sekolah Dasar merupakan tingkat pendidikan yang pertama kali ditemui oleh anak-anak dimana berbagai keadaan mulai terstruktur di dalamnya, seperti jadwal pelajaran, jadwal piket kelas, dan pengurus kelas. Sekolah Dasar juga merupakan tempat dimana terjadi transisi dari usia anak menjadi remaja. Berbagai pengaruh yang diberikan selama berada di bangku Sekolah Dasar akan membentuk pribadi anak/siswa ketika menginjak masa remaja. Dengan kata lain, ketepatan bimbingan yang diberikan selama berada di Sekolah Dasar memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan kepribadian siswa. Metode bimbingan yang kaku dan keras sudah tidak sesuai lagi mengingat perilaku dan sikap siswa pada era ini memiliki perbedaan dengan yang pernah dialami dulu. Perbedaan ini seringkali menyebabkan kendala tersendiri bagi para pengajar, seperti tidak menyadari potensi siswa, tidak menyadari ketidakmampuan siswa, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam tujuan untuk membantu pengajar dalam memberikan bimbingan kepada siswa, khususnya Sekolah Dasar, penggunaan teknologi Business Intelligent akan sangat membantu dalam mengetahui kondisi perkembangan siswa lebih dini.

Kata kunci: pendidikan, pengajar, SD, siswa, bimbingan, Business Intelligent

1. Siswa Dulu dan Sekarang

Sekolah Dasar merupakan tingkat pendidikan yang pertama kali ditemui oleh anak-anak dimana berbagai keadaan mulai terstruktur di dalamnya, seperti jadwal pelajaran, jadwal piket kelas, dan pengurus kelas. Sekolah Dasar juga merupakan tempat dimana terjadi transisi dari usia anak menjadi remaja.

Dalam kenyataannya, Sekolah Dasar sudah mulai ada sejak Indonesia belum dalam keadaan merdeka. Hingga memasuki abad ini, setelah mendapatkan berbagai pengaruh dari berbagai faktor eksternal seperti televisi dan didikan orang tua, tentunya ada perbedaan antara siswa dulu[1] dan siswa sekarang[2].

Menurut salah satu opini guru(1), perbedaan siswa dulu dan sekarang adalah terletak pada:

  1. Kepatuhan / sikap hormat kepada guru
  2. Sikap saat mendengarkan nasehat
  3. Perhatian akan keberadaan guru
  4. Sikap terhadap perintah guru
  5. Sikap pada tugas yang diberikan
  6. Sikap akan hukuman
  7. Pendangan mengenai hubungan guru dan siswa

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya siswa sekarang seperti yang diopinikan di atas dikarenakan:

  1. Arus informasi dan teknologi
  2. Keikhlasan guru yang mulai luntur
  3. Guru lebih takut pada orang tua
  4. Kurangnya sifat keteladanan pada guru
  5. Guru takut pada hukum dan peraturan secara berlebihan, sehingga cenderung membiarkan saja ketika siswanya kurang benar

Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa kemudahan arus informasi dan teknologi serta tuntutan jaman, membuat siswa sekarang memiliki kompetensi yang lebih jika dibandingkan dengan siswa dulu. Berbagai macam prestasi yang diraih pun semakin beragam untuk usia terkait. Peningkatan ini pun menjadikan tantangan sendiri bagi sekolah untuk memfasilitasi kebutuhan siswa tersebut. Sehingga hal ini juga menjadikan dampak tersendiri akan biaya sekolah, fasilitas, metode pengajaran, kompetensi guru, bahkan hingga status sekolah.

2. Peran Guru

Dalam tujuan meningkatkan kualitas pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah dasar, tentunya tenaga pengajar/guru juga harus memiliki kompetensi. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada pasal 28 ayat 3(2), kompetensi  sebagai  agen  pembelajaran  pada  jenjang pendidikan dasar dan menengah  serta pendidikan  anak usia dini meliputi:

  1. Kompetensi pedagogik;
  2. Kompetensi kepribadian;
  3. Kompetensi profesional; dan
  4. Kompetensi sosial.

Adapun tanggung jawab yang dimiliki oleh guru SD adalah lebih besar dibandingkan pengajar SMP dan SMA. Hal ini dikarenakan guru SD kebanyakan akan merangkap sebagai wali kelas dan menjadi guru untuk hampir keseluruhan mata pelajaran. Hal ini menuntut kemampuan guru dalam menguasai materi dan memahami perkembangan siswa setiap harinya.

3. Proses Bimbingan dan Kendala

Sementara itu, pada pasal 19 ayat 1(3), Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan

secara  interaktif,  inspiratif,  menyenangkan, menantang, memotivasi  peserta  didik  untuk berpartisipasi  aktif,  serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Dilanjutkan dengan ayat 2, terdapat tambahan bahwa pendidik juga harus memberikan teladan.

Namun dalam kenyataannya, tak jarang pengajar yang gagal memberikan keteladanan semisal masalah contek-mencontek dan merokok. Permasalahan ini bahkan sudah bukan rahasisa lagi di mata media massa(4). Selain itu, pengajar juga sering sulit membedakan kediaman yang dimiliki oleh siswa. Apakah diam itu berarti siswa patuh, tidak mengerti, atau tidak mau tahu? Pengajar juga sering melakukan stereotif dimana siswa yang banyak bicara dianggap nakal, kemudian secara subyektif berpengaruh pada nilai. Adanya perubahan penilaian (metode kognitif, psikomotorik, afektif) akhirnya memberikan pencerahan. Akan tetapi faktor subyektifitas di sini masih sulit untuk dihindari. Kegagalan dalam memeriksa absensi juga menyebabkan pengajar kurang menyadari adanya perbedaan kompetensi yang diterima oleh siswa. Hal ini seharusnya ditindaklanjuti dengan hal lain yang akan mendukung tercapainya kompetensi yang sama antara siswa satu dengan yang lainnya.

4. Pengantar BI

Diambil dari IlmuKomputer.com(5), secara umum Business Intelligence (BI) merupakan sebuah proses untuk melakukan ekstraksi data-data operasional perusahaan dan mengumpulkannya dalam sebuah data warehouse. Selanjutnya data di data warehouse diproses menggunakan berbagai analisis statistik dalam proses data mining, sehingga didapat berbagai kecenderungan atau pattern dari data. Hasil penyederhanaan dan peringkasan ini disajikan kepada end user yang biasanya merupakan pengambil keputusan bisnis. Dengan demikian manajemen dapat mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta aktual, dan tidak hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman kuantitatif saja.

Pemanfaatan BI sudah memasuki berbagai aspek. Selain di dalam bidang manajemen dan perekonomian, BI juga dimanfaatkan dalam pelayanan sosial, kesehatan, media, dan lain-lain. Adapun wujud nyata dari pemanfaatan BI adalah dengan menggunakan dashboard atau tampilan yang menunjukkan hasil analisis data-data operasional.

5. Proses Bisnis yang Berpotensi

Menurut kasus yang diutarakan, permasalahan yang terjadi pada hal pendidikan ini terletak pada tanggung jawab pengajar yang cukup banyak dipertemukan dengan tuntutan kebutuhan siswa yang semakin bertambah setiap waktunya. Hal ini menyebabkan berbagai macam kelalaian yang mungkin terjadi dilakukan oleh guru, baik dalam melakukan pengawasan prestasi maupun kepribadian siswa.

Mempertemukan permasalahan yang muncul dengan pemanfaatan teknologi BI, memunculkan sebuah gagasan akan pemanfaatan Business Intelligent di dunia pendidikan sebagai counseling support (pendukung konseling) untuk siswa sekolah dasar. Pemanfaatan ini bertujuan untuk meringankan beban pengajar dalam melakukan pengawasan serta pembimbingan akan perkembangan siswanya. Adapun pemanfaatan skala kecil ini (lingkup sekolah) menjadikan jenis dashboard yang dimanfaatkan adalah yang bersifat operasional dengan memanfaatkan data harian. Untuk pengembangan lebih jauh, gagasan ini dapat dikembangkan menjadi lingkup kota atau daerah atau lingkup yang lebih luas lagi, yang bertujuan untuk melihat kualitas sekolah ditinjau dari pengajar maupun siswanya.

6. Implementasi BI

Dalam pengimplementasiannya, diperlukan berbagai data harian seperti data absensi, data nilai mata pelajaran (kognitif, psikomotorik, dan afektif), data prestasi siswa, data tes IQ, data tes kesehatan, serta data umum lainnya yang berkenaan dengan nama, alamat, orang tua, dan kondisi keluarga siswa.

Jika biasanya data ini disimpan dalam bentuk dokumen yang rawan kehilangan, maka selanjutnya data disimpan ke dalam database. Data tersimpan dalam bentuk tabel sesuai dengan tujuannya. Misal, tabel absensi, tabel nilai mata pelajaran, tabel kesehatan siswa, dan sebagainya. Tabel-tabel ini akan dihubungkan satu sama lain untuk menghasilkan suatu cube yang berguna untuk pelaporan nantinya. Cube adalah bentuk korelasi tiga dimensi antara tabel satu dengan lainnya, yang hasilnya nanti akan ditunjukkan melalui dashboard. Adapun dashboard merupakan tampilan interaktif dari hasil pengolahan data yang ada. Bentuk tampilan yang ada bisa berwujud grafik, chart, list, query (top 5, jumlah, rata-rata), atau menggunakan komponen lainnya. Pembuatan cube dan dashboard bisa menggunakan berbagai teknologi. Adapun salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan aplikasi open source seperti Pentaho(6).

Dengan begini, perkembangan siswa akan mudah diamati dan pengajar bisa fokus pada proses bisnis lainnya yang tidak didukung BI seperti bagaimana melakukan pendekatan pada siswa. Pengajar juga tidak perlu risau akan ketidaktepatan hasil yang ditunjukkan, karena hasil pengolahan data sudah berdasarkan fakta yang didapatkan setiap harinya.

7. Pemanfaatan BI pada Kasus

Dimisalkan pada suatu sekolah terdapat kebijakan melakukan hubungan komunikasi dengan wali murid secara khusus untuk siswa yang nilai akademisnya mengalami kemunduran beberapa periode terakhir. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, kemunduran nilai akademis bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  1. Nilai jatuh karena sering absen/ meninggalkan pelajaran
  2. Nilai jatuh karena siswa tidak menyukai pelajarannya
  3. Nilai jatuh karena siswa tidak fokus saat pelajaran berlangsung
  4. Nilai jatuh karena siswa takut gurunya
  5. Nilai jatuh karena kondisi siswa sedang tidak baik saat pengambilan nilai
  6. Nilai jatuh karena kesalahan memasukkan nilai
  7. Kemungkinan lainnya

Untuk mengamati hal tersebut poin-poin yang bisa diperhatikan adalah:

  1. Nilai kognitif siswa, untuk melihat tinggi rendahnya pencapaian nilai keakademikan siswa pada mata pelajaran yang bersangkutan.
  2. Absensi kehadiran siswa pada mata pelajaran yang bersangkutan, untuk melihat frekuensi tatap muka siswa dengan mata pelajaran bersangkutan.
  3. Nilai afektif siswa, untuk melihat sikap siswa dalam selama mata pelajaran yang bersangkutan.
  4. Data kesehatan siswa, untuk mengetahui kondisi kesehatan siswa.

Dengan memperhatikan faktor-faktor lain yang berpengaruh, maka pengajar memiliki informasi awal sebelum melakukan komunikasi dengan wali murid. Pengajar juga dapat memperkirakan intensitas pertemuan, saran, atau informasi apa yang dapat dibagikan kepada wali murid untuk kemajuan siswa kembali.

8. Manfaat BI dalam Pendidikan

Berbagai kemudahan yang didapatkan pengajar dalam mengimplementasikan BI dashboard untuk pendidikan adalah:

  1. Mengetahui perkembangan akademis siswa dari waktu ke waktu. Hal ini dapat berlanjut mulai kelas I hingga kelas VI karena data yang tetap tersimpan/ tidak hilang seperti dokumen konvensional.
  2. Membantu pengajar untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa lainnya, seperti kesehatan, kondisi ekonomi orang tua, IQ, EQ, dan SQ.
  3. Menghindari pengajar dalam tidak memperhatikan beberapa siswa yang tidak terlalu aktif. Hal ini juga memerlukan tindak lanjut pengajar untuk membuat siswa menjadi aktif di kelas.
  4. Membantu pengajar dalam memberikan perhatian khusus ke siswa yang benar-benar membutuhkan. Hal ini menghindari adanya siswa yang terlalu banyak diperhatikan, sementara di lain pihak diacuhkan.
  5. Membantu pengajar menyiapkan event-event spesial berkenaan dengan pencapaian kelas secara keseluruhan. Misalnya, hadiah juga rata-rata kelas bisa melebihi target.
  6. Data-data yang tersimpan tidak akan hilang selama media penyimpanan dalam keadaan aman. Hal ini berbeda dengan penggunaan dokumen konvensional yang beresiko hilang dan rusak. Namun yang perlu diperhatikan, penggunaan dokumen tersebut masih diperlukan untuk mengantisipasi adanya kesalahan teknis seperti salah memasukkan nilai.

9. Tantangan Menuju Implementasi

Sebagai pengajar, tentunya sangat menyenangkan apabila bisa memahami/ memenuhi kebutuhan siswa. Namun untuk menuju realisasi hal tersebut terdapat tantangan yang mungkin menuntut pengajar dan sekolah. Sekolah perlu melakukan pengadaan sehubungan dengan perangkat keras. Minimal 1 komputer untuk dioperasikan oleh semua guru. Diperlukan juga tenaga yang ahli dalam membantu mengoperasikan ataupun melakukan perawatan pada aplikasi terkait, termasuk membuat back-up data.

Untuk pengajar, dalam menghadapi teknologi diperlukan suatu keterbukaan untuk mau mengoperasikan dan mempelajari komputer beserta teknologinya. Sebab sebagian besar guru yang telah terbiasa dengan cara konvensional merasa tidak mampu dan merasa repot jika dipertemukan dengan hal baru.

Selain itu, pengajar juga dituntut untuk rajin memasukkan nilai ke dalam aplikasi, baik nilai mata pelajaran maupun absensi atau nilai harian lainnya. Hal ini bertujuan agar hasil yang didapatkan siswa tetap termonitor secara konsisten.

Keterangan

[1] tahun 90-an

[2] memasuki tahun 2000

Referensi

(1)     http://ideguru.wordpress.com/2010/04/14/membandingkan-perilaku-siswa-dulu-dan-siswa-sekarang/
(2)     Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, BAB VI Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, pasal 28 ayat 3
(3)     Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, BAB IV Standar Proses, pasal 19 ayat 1 dan 2
(4)     http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail& rid=150558
(5)     http://ilmukomputer.org/2006/09/27/business-intelligence-dengan-sql-server-2005/
(6)     http://www.pentaho.com/

Sumber gambar: Business Intelligent

Iklan

14 thoughts on “Pemanfaatan Business Intelligent di Dunia Pendidikan Sebagai Counseling Support untuk Siswa Sekolah Dasar

    • Pada dasarnya Business Intelligent (BI) bisa dimanfaatkan di semua aspek, termasuk pendidikan. Hal ini juga bisa dimanfaatkan ke seluruh jenjang pendidikan.
      Sebenarnya dasar penggunaan BI ini juga dihubungkan dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh pengguna. Kalau dalam tulisan di atas, teknologi tersebut ditujukan untuk pengajar (guru) itu karena tanggung jawab guru SD lebih besar dibandingkan dengan guru mata pelajaran di SMP atau SMA. Bahkan jika dikembalikan ke tingkat TK misalnya, mungkin komponennya bisa lebih detil lagi mendekati tingkat pengawasan psikologis anak, karena memang itulah yang harus dikuasai guru TK untuk bisa membuat si ‘adek-adek’ tersebut tetap cinta sekolah. Jika ditujukan untuk SMP, SMA, dan Universitas, kelihatannya penggunaan BI ini lebih ditujukan untuk keberhasilan metode pengajaran guru/dosen sendiri.
      Oh iya, tulisan mengenai BI di atas adalah yang sifatnya masih operasional. Terdapat BI yang sifatnya Tactical dan Strategis yang lebih ditujukan untuk tingkat yang lebih tinggi di instansi tersebut. Jadi tujuan penggunaannya pun akan berbeda, seperti mengetahui tingkat keberhasilan kurikulum atau metode pengajaran. Sehingga isinya tidak hanya mengenai siswanya, tapi juga para pengajar yang menjadi pelaku di lapangan.

      Semoga bermanfaat

  1. ini merupakan ide yang sangat bagus untuk menunjang sistem pendidikan di Indonesia, namun kendala paling besar adalah SDM yang akan mengelola sistem itu sendiri. pengalamanku di SMK X yang pengajarnya merupakan lulusan S1 dan S2 dan merupakan sekolah percontohan aja belum memiliki data base yang rapi, apalagi untuk sekolah dasar?
    sering kali penilitian yang cukup bagus dan inovatif terbentur oleh pola pikir dan kebiasaan yang susah untuk dirubah.

    • Akhirnya semua kembali ke SDM. Adanya perubahan pada sistem menyebabkan masalah sendiri pada pihak yang menjalankannya, mulai dari kesanggupan hingga kemampuan pihak tersebut untuk melakukannya. Jika ingin membuat semuanya berhasil, akhirnya diperlukan biaya yang tidak sedikit (misal: untuk hire pekerja).

      Semoga Indonesia bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik untuk pendidikan. Karena peningkatan di bidang pendidikan adalah peningkatan masa depan bangsa.

  2. Wah Tuz, kok publish di blog? boleh ta? hehe.. klo punyaku di-publish di sini nih

    agak memper2 dikit topiknya sama punyamu,
    * kmu pemerhati pendidikan ya,

    • Bukannya ga boleh untuk publish di blog… tapi dipertanyakan siapa yang baca. Dan menurutku… naskah ini butuh dibaca orang banyak, harus segera dibaca. Daripada menunggu media lainnya yang butuh waktu, bukankah informasi lebih cepat tersampaikan adalah tujuan yang utama? Btw, aku juga masukin ke media lain kok.

  3. sama di sini juga,

  4. Sekedar menambahkan dari contoh kasus yang terjadi pada perusahaan tempat saya bekerja..
    Pengolahan data BI didasarkan pada input nilai yang di-entry user.
    Hasil penilaian tersebut umumnya tidak valid karena tidak adanya tolak ukur yang jelas untuk tiap nilai.

    Saran saya, tiap nilai ditambahkan keterangan nilai, misal untuk penilaian skill ada keterangan sbb:

    1. KNOWLEDGE (Know the terminology and specific facts of the material)
    Evidence: Knowledge Sharing, Can perform only under detailed instruction, Understand the standard required

    2. COMPREHENSION (Understand the basic concept and grasp of the meaning & intent of the material)
    Evidence: Perform the work under guidance of senior staff, Can frequently achieve the standard

    3. APPLICATION (Can implement the design based on procedure)
    Evidence: Have competence to a certain degree, and can perform the work by oneself, Consistently achieve the standard

    dst.. =)

    • Terima kasih banyak atas sarannya.

      Ya, benar sekali. setiap nilai atau measure yang digunakan memang harus memiliki tolok ukur. dalam hal ini bisa saya sebut Key Performance Indikator (KPI). Dalam pembuatan gagasan ini mungkin di situ juga kekurangan saya.

      Namun jika dipikir lagi, untuk disesuaikan dengan kasus Sekolah Dasar di atas, tolok ukur yang seperti Saudara sebutkan di atas rupanya terlihat tinggi sekali untuk digunakan oleh sebuah sekolah. Atau mungkin saya yang kurang memikirkannya lebih jauh?

      Apapun itu, terima kasih banyak atas masukannya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s