Anak Mojokerto dan Pemikiran Tentang Kehidupannya (Bagian 1)

Kota Mojokerto

Kota Mojokerto

Mojokerto adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur. Kota kecil yang tentram, damai, dan dibumbui dengan berbagai keunikan di dalamnya. Percaya atau tidak, kota Mojokerto merupakan kota terkecil kedua (16,465 km2) di Indonesia, setelah Sibolga (10,77 km2) di Sumatera Utara (sumber klik di sini). Mungkin akan banyak orang yang tidak percaya dan akan bertanya, “Lalu bagaimana dengan Pacet atau Trawas? Mojokerto kan itu?” Saya selalu tertawa dalam hati. Kota Mojokerto memang bukan tempat yang terkenal. Di sekelilingnya terdapat daerah kabupaten yang lebih memiliki keindahan wisata alam dan budaya. Uniknya, kantor kabupatennya ada di dalam kota (nah lo!), dekat alun-alun pula.

Walaupun begitu, kota Mojokerto masih tetap indah dengan segala kerendahan hatinya. Daerah yang berada 22 meter di atas permukaan laut ini bisa dibilang panas, juga bisa tidak. Sebagian besar hari dilewati dengan pagi yang sangat dingin, kemudian siang yang sangat panas, dan memasuki senja kembali dingin. Rasa ‘sangat dingin’ akan baru muncul memasuki pukul 12 malam ke atas. Kecuali pada musim penghujan, kota ini bisa saja menunjukkan hari yang terang benderang di pagi hari dan berubah 180 derajat pada siang harinya. Atau sepanjang hari yang sangat menggerahkan dan diakhiri dengan malam yang begitu basah dan deras. Tak heran jika masyarakat Mojokerto masih mudah beradaptasi dengan suhu di kota Surabaya yang konon bisa membakar kulit (walau menggerutu dalam hati). Akan tetapi udara panas kota ini murni dari matahari. Tidak ada unsur kendaraan bermotor, asap pabrik, dan sebagainya atau dengan kata lain udara di kota ini masih bersih.

Peta Mojokerto

Peta Mojokerto

Kota, yang dulunya terkenal dengan jajanan onde-onde ini, dilintasi sungai Brantas di bagian utaranya. Sungai kebanggaan ini menjadi sumber mata pencaharian beberapa masyarakat di kala hari, dan berubah menjadi objek keindahan alam di kala senja. Ada apa gerangan? Ternyata kehidupan di sekitar sungai Brantas ini baru menyala ketika suhu mulai turun. Berbagai macam tenda berdiri, makanan dan minuman dijual di sana dengan menggunakan konsep lesehan khas anak muda. Tempat ini menjadi tongkrongan para remaja sambil menikmati indahnya sungai Brantas. (Namun semakin malam juga membuat suasana semakin sepi. Dan percayalah akan beberapa gelintir orang yang tetap bertahan di sana dan segala tujuannya). Berganti pagi, tenda-tenda yang telah dirapikan menyisakan jalur jogging track yang digunakan masyarakat untuk berolah raga. Ya, berolah raga sambil menikmati kilau sungai Brantas. Suasana kebugaran menjalar hingga ke alun-alun dan semakin terasa ketika sedang hari libur atau hari Minggu.

Mungkin masih akan banyak yang bisa diceritakan dari sebuah kota yang kecil ini. Walaupun begitu saya sangat bangga dan bersyukur lahir di kota ini. Ya, menjadi Anak Mojokerto adalah suatu kebanggaan. Saya bangga dengan segala kelebihannya. Saya bangga dengan segala kekurangannya. Saya bangga dengan segala yang ada di dalam kota Mojokerto. Akhirnya saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan untuk kota ini?

Mau main ke Mojokerto? Ayo!

Sumber gambar: Kota Mojokerto, Peta Mojokerto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s