TANGAN TUHAN: Sahabat

Sahabat

Sahabat

“Ketika rasa takut melanda, satu hal yang patut diingat… Tuhan selalu ada menemani. Melalui SAHABAT, Dia mengirimkan bantuan untuk mengatasi segala rasa ketakutanmu.”  Saya benar-benar merasakan hal ini!

Pagi ini (Jumat, 11-12-2009) saya membaca salah satu buku yang tersimpan di laci. Buku ini buku lama, jaman saya masih kecil n lucu dulu. Ini buku buat anak kecil biar lebih mengenal Tuhan dan mensyukuri hari-harinya (salah satu tujuannya). Ceritanya begini…

Tengah malam… saya bangun karena nggak bisa tidur. Selain karena udara yang lumayan panas, nyamuk yang ada di kamar juga kayaknya lagi pada kumpul. Lagi pula saat itu sehari full saya berusaha mengistirahatkan diri karena lagi sakit (sekarang udah mendingan walau masih agak panas).

“Aduh, ngapain ya?”

Saya keluar masuk kamar mandi biar dingin. Nyoba tidur lagi sambil selimutan. Tapi benar-benar kayaknya mata nggak mau merem. Akhirnya… (kayak orang pinter aja) saya berpikir untuk membaca buku, siapa tahu bisa ngantuk.

Buku apa? Jari saya berhenti di salah satu buku masa kecil saya yang judulnya “Bersahabat Dengan Yesus”, sebuah buku terjemahan yang pengarang aslinya adalah Allan Hart Jahsmann dan Martin P. Simon. Buku ini berisi banyak kisah yang sesungguhnya dikisahkan secara berkala oleh orang tua kepada anaknya. Saya membaca beberapa judul dan kebetulan terkesan akan salah satunya…

APA YANG KITA LAKUKAN KALAU KITA TAKUT?

Fredi dan Sri bermain di halaman sekolah agak lama. Kini hari telah gelap dan mereka harus berjalan pulang melalui kuburan. Di situ banyak orang mati dikuburkan. Teman mereka Joni mengatakan bahwa di daerah pekuburan itu ada hantu, sehingga Fredi dan Sri merasa takut.

“Ibu mengatakan kepada kita bahwa tak ada hantu di kubur itu,” kata Sri. Tetapi Sri tidak begitu yakin. Matanya berkedip dengan cepat.

“Aku tahu,” kata Fredi berlagak berani. “Tetapi pada malam hari segala sesuatu kelihatan seperti hantu. Mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di sana.”

“Aku tahu apa yang sebaiknya kita lakukan,” kata Sri. “Marilah kita berdoa dan meminta Yesus untuk berjalan bersama kita.” Lalu mereka berhenti dan melipat tangan mereka. Sri berdoa, “Ya, Yesus, sertailah kami dalam perjalanan pulang ke rumah.” Kemudian mereka mulai berjalan lagi.

“Bila Yesus bersama kita, kita tak perlu merasa takut,” kata Fredi yang sudah merasa tenang.

“Tetapi Yesus memang selalu menyertai kita setiap waktu, jadi kita tak perlu takut,” kata Sri. “Aku senang karena Yesus selalu bersama kita.”

“Aku juga,” kata Fredi. “Ketika aku merasa takut, aku harus percaya kepada Allah. Itulah yang kupelajari dari Alkitab.”

“Kalau aku merasa takut, aku akan percaya kepada Allah,” kata Sri. “Itulah yang akan kukatakan pada waktu yang akan datang kalau aku merasa takut.”

Seketika saya sadar bahwa rasanya sudah cukup lama saya lupa akan penyertaan Tuhan setiap hari. Masalah yang datang silih berganti, sering membuat saya drop dan merasa hidup seorang diri. Saya lupa kalau Tuhan selalu ada. Dialah jawaban untuk semua permasalahan. Haduh… berdoa setiap hari sepertinya kurang betul-betul diimani oleh saya. Mengalir begitu saja… melakukan tanpa dipikirkan… (Saatnya introspeksi nih!)

Akhirnya saya berusaha untuk mengisi hari ini dengan mengingat-ingat hal tersebut. Itung-itung menggantikan hari kemarin, saya harus total hari ini.

Ada satu hal yang harus segera diselesaikan, yakni tentang pelaksanaan acara LKMM TD (Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar). Proposal belum seluruhnya mendapatkan persetujuan, namun agaknya sudah lebih ringan karena sudah dikomunikasikan dan mendapat beberapa saran dari Ketua Jurusan. Saya menyerahkan pengajuan proposal pada salah satu sahabat yang menjadi sie perijinan (AL) dan sahabat lainnya lagi yang bertugas sebagai pemandu (AAA). Maaf sekali, saya melakukan hal ini karena pada hari Kamis keadaan saya benar-benar drop. Syukurlah, Jumat ini saya sudah merasa baikan sehingga bisa melanjutkan penyelesaian hal ini.

Proposal sudah mendapatkan semua tanda tangan baik dari dosen TKK, Ketua Jurusan, maupun dari Pembantu Dekan III. Sebelum maju ke BAAK dan Pembantu Rektor III untuk meminta dana, sahabat yang bertugas di bendahara (ANA) sudah menyiapkan segala bentuk SPJ yang katanya diminta oleh pihak BAAK, termasuk absen konsumsi dan hal pendukung SPJ lainnya.

“Oh iya, ada yang belum dapat tanda tangan. Surat permohonan dananya belum dapat tanda tangan bapak PD III. Stempelnya juga,” kata AAA lewat SMS.

OK! Saya mulai bergerak. Surat itu sudah disiapkan kemarin, jadi saya tinggal meminta tanda tangan. Tapi… “Wah, ini redaksionalnya salah. Coba kalau ……GHY&&UGHLLJ” pesan Bapak PD III. Segera, saya mengubahnya. Meskipun sedikit kecewa karena harus kembali lagi dari awal, toh ini juga demi kebaikan. Saya membawa hasil ketikan dengan revisi redaksional ke hadapan PD III lagi. “Iya lah. Minta tanda tangan ke Ketua Jurusan dulu,” jawab beliau akhirnya. Mungkin nadanya seperti terdengar capek. Minta tanda tangan Ketua Jurusan, Pembantu Dekan III, dan minta stempel ke TU.

“Yups! Semua surat-surat sudah siap. Dokumen sudah siap. Berkas-berkas sudah siap,” batin saya. Akhirnya saya dan AL berangkat ke BAAK untuk memenuhi permintaan pada hari Kamis (saat AL dan AAA maju, saya masih sakit).

Ups, hari Jumat. Saatnya sholat Jumat! BAAK buka lagi pukul 13.30. Saat jarum jam menunjukkan waktu tersebut, saya dan AL pun masuk ke ruangan. “Lho bukan begini… pertama begini mas…. jadi sampean ke Pak G… dapat persetujuan… maju ke PR III… PR III setuju sampean dapat dana berapa… baru dibuat SPJnya,” kata ibu di BAAK yang mengurus masalah pemberian dana. Saya mengangguk-angguk. Dalam hati, yah alamat nunggu lama nih! “Dan satu lagi mas, Pembantu Rektor ada banyak. Untuk minta dana ke PR III,” kata ibu itu sambil menunjukkan surat permohonan dana yang saya berikan. Rasanya mata mau keluar… WHATS?! Jadi surat ditujukan kepada “Pembantu Rektor” saja?!

Seketika saya lemas… mengingat ditambahkan angka III pakai bolpen tidak boleh, bisa dibayangkan apa saja yang harus dilakukan agar semua berjalan lancar hari ini. Membetulkan surat yang dimaksud, mencetaknya, meminta tanda tangan lagi ke Ketua Jurusan dan Pembantu Dekan III, meminta stempel Jurusan dan Fakultas, lalu kembali lagi ke BAAK.

Aduh… hari ini Jumat. Sabtu dan minggu BAAK pasti tutup. Waktu tinggal beberapa jam sebelum BAAK tutup. “Minta tanda tangan kan susah,” kata saya ke AL yang selalu menemani ke BAAK. “Kalau tanda tangannya di-scan gitu boleh ga yah?” Saya sendiri tidak sadar, ide itu muncul dari mana.

Akhirnya dengan semangat seadanya, kami berdua kembali ke kampus dan diterima dengan wajah bingung juga oleh AAA yang setia menunggu. Kami pun bergerak cepat. Saya pinjam laptop AAA, ketik-ketik-ketik, cetak, minta tanda tangan…

ADUH…! Sabtu besok jurusan mengadakan sebuah acara besar, sehingga hari ini mereka sibuk melakukan persiapan. Saya harus menunggu Ketua Jurusan rapat dulu. Begitu rapat selesai, Bapak Ketua Jurusan pun keluar ruangan dengan tergopoh-gopoh dan langsung melihat saya yang sudah menunggu di depan. “Ada yang diganti lagi? Tanda tangan lagi?” tanya beliau. Saya sempat terhenyak karena belum mengucapkan sepatah kata pun kecuali ‘maaf, Pak!’. Ketua Jurusan langsung tanda tangan tanpa banyak berbicara dan melesat pergi.

BELUM SELESAI…! Ternyata rapat di fakultas lebih parah. Ketua Jurusan ternyata lari ke sana. Ini artinya rapat ini lebih tidak bisa diganggu lagi. Nah lo, saya langsung kaku. Surat dipegang dengan lemas dan tidak tahu harus melakukan apa. Saya juga merasa seharian ini sudah cukup mengganggu Bapak Pembantu Dekan III. Nyuuut… sakit kepala melanda tiba-tiba!

AAA yang tadi sedang ada urusan pun datang. Dia juga bingung dengan situasi ini. Kebetulan kami berdua juga tidak mempunya nomor hp bapaknya sehingga tidak bisa minta tolong langsung. Terpaksa kami menunggu bapaknya keluar.

“Tata Usaha tutupnya jam berapa ya? Stempelnya…” kata saya. Ayo deh, kami cari stempel dulu. Beberapa langkah menuju Tata Usaha, Bapak PD III keluar ruangan rapat menuju kantornya. AAA langsung mengajak saya gerak kilat untuk kembali dan langsung minta tanda tangan ke bapak PD III. Dengan sungkan-sungkan dan muka tebal, tanda tangan pun didapatkan. Terima kasih, AAA!

Ayo ke BAAK! Kembali saya mengajak AL ke sana. Dan seperti anjuran ibu pengurus dana, kami ke pak G dulu. “Wah, ya majunya senin mas. Sekarang pak PR III-nya sedang tidak ada di tempat. Diambil selasa ya!” Sudahlah, akhirnya untuk sementara ini sampai di sini dulu. Paling tidak proposal dan surat pengajuan dana sudah diberikan. Fuh, terima kasih, AL!

Mungkin saya tidak pandai menceritakan hal ini secara mendetil. Karena sesungguhnya apa yang terjadi terasa lebih pelik daripada kata-kata yang teman-teman nikmati ini. Masalah kiranya belum selesai, namun paling tidak harus menunggu hari Senin untuk melanjutkan semuanya. Hari ini saya merasa sudah melakukan banyak sekali hal. Dan saya bersyukur karenanya.

Saya bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang selalu menemani. AL, AAA, ANA, dan teman-teman lainnya yang selalu bersedia membantu walau tidak diminta. Saya bersyukur selalu ada sahabat yang mendukung saya ketika merasa tidak sanggup melakukan sendiri. Saat meminta tanda tangan, saat saya merasa sakit, saat tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan sahabat-sahabat ini kepada saya. Sahabat yang selalu membantu dan ada. Mungkin inilah cara Tuhan memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada saya.

Teman-teman tentunya juga memiliki sahabat, atau teman, atau keluarga, atau seseorang yang sangat berharga bagi hidup teman-teman sekalian. Mungkin ada baiknya jika teman-teman segera menyadari bahwa mereka benar-benar tercipta untuk mendampingi teman-teman saat ini. Teman-teman memang tidak bisa merasakan teguran atau bantuan Tuhan secara langsung. Namun teman-teman bisa merasakan hal itu melalui siapa saja yang membantu di saat kesusahan dan ketakutan. Karena melalui merekalah tangan Tuhan bekerja. 🙂

Teman-teman juga merasakan hal yang sama dengan saya?

Sumber gambar: Sahabat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s