MEMBELI BUKU UNTUK KESENANGAN: Tidak harus dibaca sekarang

Beli Buku

Beli Buku

Teman-teman punya kebiasaan keluar masuk toko buku walaupun tidak sedang bekerja di sana? Suka melihat buku-buku yang bertumpuk atau berjajar rapi? Suka melihat cover buku? Suka melihat berlembar-lembar kertas? Suka berkecimpung di dunia yang penuh dengan buku, kertas, dan coretan pena? Suka menghabiskan berjam-jam di toko buku daripada di toko baju, walaupun nggak ngapa-ngapain?

Mungkin ini adalah salah satu penyakit yang saya miliki. Mungkin juga teman-teman sekalian seperti itu. Entah darimana dan sejak kapan penyakit ini muncul. Yang jelas kenyamanan itu ada di sana.

Ada orang yang sangat suka melihat berbagai macam corak dan mode pakaian, makanya dia betah tinggal di toko baju. Ada orang yang betah di toko elektronik, gara-gara dianya suka sama hal-hal yang bersifat mekanis dan otomatis. Ada pula orang yang betah berjam-jam di tempat yang sumpek dan bau yang tercampur aduk antara sayur dan buah, gara-gara orang itu betah untuk berlama-lama berperang kesepakatan dengan penjual (ibu-ibu suka nawar :mode on: ).

Setiap orang pasti menemukan tempat nyamannya dan itu pasti tak jauh dari kesukaannya akan sesuatu hal. Kesukaan ini -percaya nggak percaya- bisa memberikan kekuatan yang tak terkira kepada seseorang untuk bertahan di suatu tempat. Kekuatan ini didukung oleh munculnya anggapan perasaan nyaman yang berbaur menjadi satu dengan aura tempat yang sedang dikunjunginya.

Saya suka sekali mampir ke toko buku (kalau sedang nggak bokek). Tujuannya sederhana, mau lihat buku. Kalau ada yang membuat tertarik, ya dibeli. Kalau nggak ada, ya pulang. Tapi kalau bisa setiap kali kunjungan harus ada paling tidak satu buku yang terbeli.

Selanjutnya apa yang saya lakukan terhadap buku itu? Dibawa pulang, buka plastik pembungkusnya, dan baca-baca sedikit. Kalau memang isinya membuat penasaran dan tidak bisa berhenti (semisal cerita horor), proses membaca bisa dilanjutkan. Kalau isinya bisa dibaca kapanpun dan tidak membuat saya harus membaca sampai habis, siap-siaplah buku itu ditata rapi di dalam lemari buku atau rak.

Melihat buku bacaan yang bertumpuk sering memotivasi saya untuk terus menulis. Kapan buku ciptaanku bisa memenuhi rak buku orang-orang pecinta buku di luar sana? Pertanyaan serupa pun muncul ketika saya bermain ke toko buku. Kapan kiranya buku ciptaanku bisa berjajar di rak-rak buku ini? Kapan bisa dipajang di etalase toko? Kapan bisa dibeli oleh para pecinta buku?

Intinya… bukan menyia-nyiakan apa yang sudah dibeli, tapi tiap orang memiliki caranya sendiri untuk mendapatkan rasa nyaman, rasa puas, dan dorongan motivasi bagi dirinya sendiri. Sejauh hal tersebut tidak mengganggu orang lain, wajar dan memberikan pengaruh positif pada kehidupan seseorang secara psikologis, cara apapun bisa dilakukan.

Toh… buku bukan barang yang bisa kadaluarsa. Buku kuno pun jika isinya memang menarik perhatian, pasti juga dibaca orang.

Apakah teman-teman juga mempunyai kebiasaan yang sama dengan saya?

Sumber gambar: Beli buku

Iklan

3 thoughts on “MEMBELI BUKU UNTUK KESENANGAN: Tidak harus dibaca sekarang

  1. wa…. ternyata kamusamasamasaya ya… hahah,
    I ain’t walk alone klo gitu…

    Mari kita terus membeli buku, membaca, dan menulis,
    Semangat…!!

    Ato ntar buku pertama kita kumpulan postingan blog,
    heheh,

  2. Ping-balik: Beli Buku, Baca Buku, Pinjam Buku. « Armanketigabelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s