Tornado Berpendar

Tornado

Tornado

Langit yang berwarna keemasan, awan yang mulai berpendar, dan angin yang nyaring bersiul. Ini adalah tanda awal bahwa bencana akan tiba, kurang lebih lima hari lagi. Seluruh penduduk desa berbondong-bondong mencari persediaan makanan. Mereka semua berusaha mengumpulkan bahan-bahan yang bisa diolah maupun yang dimakan langsung, baik itu yang berasal dari hutan, ladang, sungai, maupun lautan. Penduduk desa pun berubah menjadi pemburu dadakan.

Bencana yang sudah diperkirakan oleh nenek moyang mereka dua ratus tahun yang lalu sepertinya benar-benar akan terjadi. Pertanda yang bermunculan satu demi satu, menggetarkan hati mereka yang semula menganggapnya hanya takhayul. Sesuatu yang mereka anggap sebagai legenda bodoh itu serta merta menjadi kepercayaan yang begitu kuat dalam hati mereka.

Tan Hanamu adalah salah seorang muda yang ada di desa itu. Dia masih kecil. Umurnya delapan tahun. Ayahnya seorang nelayan spesialis Kraos, salah satu dari lima orang yang ada di dunia ini. Karena alasan itulah Tan Hanamu belum pernah menjumpai wajah ayahnya barang satu kali pun. Untungnya, Tan Hanamu masih memiliki ibu yang sangat menyayanginya. Wanita yang bekerja merawat kebun bunga Latios itu sangat sederhana dan berpikiran terbuka. Dia juga ramah dan mudah bergaul dengan berbagai macam orang.

Kehidupan Tan Hanamu bersama ibunya layaknya daun yang terapung di sungai tenang. Semuanya berjalan dengan lancar. Mereka hidup bahagia, walaupun sang Ayah hanya bisa berkirim kabar lewat sepucuk surat yang dikirimkan oleh kurir kapal.

Tan Hanamu, pasti kau sekarang sudah semakin besar, Nak. Berapa tinggi badanmu sekarang? Apakah sudah sebahu ibumu? Delapan tahun sudah ayah berada di permukaan laut. Itu artinya delapan tahun pulalah usiamu sekarang. Kau pasti mempunyai banyak teman kan, Anakku? Dulu ayah sudah mulai berusaha untuk mengumpulkan banyak teman ketika seusiamu. Ayah tidak pilih-pilih. Namun ayah tetap waspada dengan apa yang baik dan yang buruk bagi ayah. Dengarkan selalu apa yang ibumu katakan, Anakku. Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Oh ya, sebelum ayah mengakhiri surat ini, ayah dengar kalau desa kita akan mendapatkan giliran bencana untuk yang pertama kali. Lindungi ibumu, Anakku. Kau tidak perlu mengumpulkan banyak makanan. Ambil secukupnya saja. Ibumu akan mengerti dengan apa yang kau lakukan nanti. Salam sayang, Ayah.

Tan Hanamu mendapatkan suratnya sebelum ibunya tahu. Kurir kapal yang berkumis garang namun ramah itu sudah menjadi paman bagi Tan Hanamu. Biasanya laki-laki itu mampir sejenak untuk minum air embun olahan ibu Tan Hanamu. Namun tidak untuk kali ini, dia harus segera berjaga lagi di kantornya mengingat dia belum tahu gejolak apa yang akan muncul ketika bencana itu tiba.

“Oh, tidak!” Tan Hanamu mendengar ibunya terpekik dari dalam rumah. Pria kecil itu segera menghampiri, siap membantu kalau ada yang tidak beres.

Sesampainya di dalam, Tan Hanamu mendapati ibunya sedang serius melihat televisi. Rupanya ada sesuatu yang mengejutkan terjadi kembali di luar sana. Tan Hanamu berdiri lebih dekat di layar televisi daripada ibunya.

“Sini, Anakku! Nanti matamu perih jika terlalu dekat dengan televisi,” ucap ibu Tan Hanamu sambil menepuk kursi di sebelahnya.

Sebuah pemandangan yang asing tertangkap mata Tan Hanamu. Awan berpendar yang bergulung-gulung mulai mencapai permukaan laut, serupa tiang penyangga langit. Angin tornado telah menghisap awan-awan itu dan mengajaknya meraba bumi. Menurut para ahli dan ilmuwan, awan berpendar itu sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Terdapat gas beracun di dalamnya yang apabila terhirup ke dalam pernapasan akan menguapkan semua cairan di dalam tubuh. Manusia akan mati kering seperti mumi.

Tornado Berpendar,” begitu reporter menyebutkan, “diperkirakan sampai di daratan pertama, yaitu Desa Haiku, empat hari lagi. Pemerintah menghimbau seluruh warga agar mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tidak hanya berdiam diri di dalam ruangan bawah tanah, tetapi benar-benar mengungsi ke tempat yang tidak terjamah Tornado Berpendar. Karena menurut para ahli dan ilmuwan, awan ini dapat memasuki celah kayu hingga yang terkecil sekali pun.

Tan Hanamu berpaling pada ibunya yang tampak begitu cemas. Wanita itu begitu mengkhawatirkan keselamatan suaminya. Dia sendiri tidak tahu dimanakah suaminya itu berlayar. Yang ia ketahui adalah mereka berdua saling mencintai dan masih hidup hingga saat ini.

“Ibu,” panggil Tan Hanamu.

“Iya, Anakku?”

“Apa kita tidak melakukan hal yang dikatakan di televisi itu? Mengungsi.”

Ibu Tan Hanamu menggeleng mantap. Ia seperti sangat mengenal situasi ini. Dan bersamaan dengan itu, rasa cintanya kepada suaminya semakin kuat. Delapan tahun yang lalu, sebelum berlayar, ayah Tan Hanamu seperti sudah lebih dulu mengetahui akan datangnya situasi seperti ini. Dia sudah menyiapkan semuanya.

“Tinggal dirimu dan anak kita. Mungkin saat itu aku tak bisa menemui kalian. Namun yakinlah, bahwa setelah bencana itu lewat, aku akan selalu ada bersama kalian,” begitu kata ayah Tan Hanamu sambil memeluk istrinya yang sedang hamil delapan bulan. “Setiap ada kejadian yang menarik, aku akan selalu memberi kabar. Temanku akan mengirimkan surat kemari. Jamulah dia dengan baik karena kalian akan menjadi akrab dan sering bertemu.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Ibu?” pertanyaan Tan Hanamu membuyarkan lamunan ibunya. Pria kecil itu sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan ibunya hingga ada sedikit senyum di bibirnya yang merah. “Apa kita tidak mengumpulkan bahan makanan sama seperti yang lain?”

Ibu Tan Hanamu mengangguk. “Kita juga mencari. Namun ingat, Anakku, jangan mencari makanan di tempat yang ramai diperebutkan banyak orang. Jangan pernah berselisih dengan orang yang kau temui, meskipun kau sudah mengenalnya dengan baik.”

Iklan

One thought on “Tornado Berpendar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s