Wajah Ayu Ajeng

Sawah di Desa

Sawah di Desa

Terik mentari kian rasuki sanubariku. Hembusan angin semilir yang lama tak kurasakan di desa ini, akhirnya kembali menggoda tanganku untuk melukis panorama ini kembali. Seperti biasanya setiap hari libur panjang, kusempatkan untuk mengunjungi desa ini. Desa yang penuh kenangan kecilku, ketika masih kanak-kanak dan bau kencur.

Rupanya desa ini tak kunjung berubah. Meskipun kota sudah terpenuhi dengan gedung-gedung yang saling berhimpitan, desa ini tetap saja dengan sawahnya yang luas. Walaupun tidak sedang menguning, tapi aku sungguh tahu kalau musim panen akan datang sebentar lagi.

Anganku melayang bersama dengan goresan pensil di atas kertas gambar A4 milikku. Teringat senyum emak ketika melihatku bermain perang-perangan bersama Idris, Kholik, Topan, dan yang lainnya. Atau suaranya yang merdu mengiringiku ke alam mimpi. Semuanya begitu melegakan. Sekali lagi ingin kurasakan kesejukan seorang emak untuk sekadar singkirkan kepenatan selama ada di kota.

Bayangan ranting pohon jatuh di atas kertas gambarku. Melukis di atas bukit ini, memang tak tergantikan rasanya. Banyak sekali yang bisa kulihat dari sini. Selain ada pegunungan yang sampai saat ini tak kuketahui namanya, ada juga sawah, petani dan kerbaunya, bocah kecil yang lari-larian di pematang, atau burung pemakan padi yang selalu menyibukkan para petani. Semuanya begitu mendamaikan jiwaku. Hingga terbesit sebaris pertanyaan dalam lamunku. Apa yang membawaku ke kota? Mengapa aku tinggal di sana?

“Kang! Kang Sarmin!” sayup-sayup terdengar suara gadis di kejauhan. O, bukan! Bukan gadis, tapi wanita. Dia berlari dari sawah ke bukit tempatku menikmati pemandangan. Dengan kebaya layaknya para wanita desa, dia tampak anggun di alam yang hijau ini. Siapa gerangan dirinya? Apa aku mengenalnya?

“Kang Sarmin kapan datang?” tanya wanita itu dengan wajah berseri.

“Maaf. Saya ini sudah sedikit pelupa,” sahutku sambil menggaruk kepala yang tak begitu gatal. “Imas? Eh, bukan! Rani?” aku mencoba menerkanya.

“Ini Ajeng, Kang! Rupanya Akang memang sudah pelupa,” katanya sembari duduk di sebelahku.

“O, Ajeng anaknya Abah Toyib itu? Yang juragan kelapa itu?” tanyaku untuk memastikannya. Wanita itu mengangguk pelan. Tampaknya dia tersenyum bangga karena aku ingat juga akan abahnya.

Dulu Ajeng adalah kembang desa yang paling disegani di desa. Selain parasnya yang ayu, hatinya juga sangat lembut. Selembut kain sutra milik emak. Banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya, termasuk aku. Bagaimana tidak? Sudah punya istri cantik, baik, hartanya pun melimpah. Namun aku sadar. Untuk mendapatkan Ajeng sudah pasti sangatlah susah. Akhirnya kuputuskan untuk mundur dari persaingan dan membantu emak di sawah. Sekali lagi pertanyaan itu muncul. Bagaimana aku bisa ada di kota?

Iklan

7 thoughts on “Wajah Ayu Ajeng

  1. Hmm, maka dari itu, jika punya rasa ungkapkanlah, tapi bukan dengan cara yang berlebihan. Gara-gara saling memendam rasa, Ajeng dan Sarmin ga jodoh deh.

  2. Ping-balik: Blogmu = Pulau Harta Karunmu ! « Rahasia Otak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s