Di Balik Dingin Itu

Lelah

Lelah

Dingin. Perasaan ini selalu kurasakan begitu sesuatu yang mengganjal di dalam hati tiba-tiba menggelegak dan menyerang sekujur tubuhku. Aku tidak mengenalnya dan aku tidak mengharapkannya. Aku tidak tahu sejak kapan dia datang dan sejak kapan dia mulai melakukan hal ini kepadaku.

Aku bukanlah orang yang sedang divonis berpenyakit parah. Sejauh ini, sejak kecil hingga di umur kepala tiga ini, aku hanya terkena influenza beberapa kali. Jika ditotal mungkin hanya sepuluh kali. Itu pun tidak lama, paling-paling dua hari saja. Aku juga pernah terkena cacar sekali di usia sepuluh tahun, patah tulang di tangan kiri saat umur dua puluh karena kecelakaan saat melakukan pendakian, dan masuk rumah sakit karena keracunan makanan setahun yang lalu. Selebihnya aku sehat walafiat dan melakukan aktivitas seperti biasa.

Meskipun aku bukan seseorang yang sangat mengedepankan gaya hidup sehat, tapi aku merasa kehidupan yang kujalani sama sekali tidak menjerumuskanku menjadi orang yang berpenyakitan. Rumah yang kuhuni ini bersih dari debu dan kotoran. Setiap hari aku rutin membersihkannya, biasanya pagi jam lima dan sore jam empat. Aku pun tidak memelihara hewan selain ikan koi yang ada di samping rumah. Kolam pun kukuras rutin setiap seminggu sekali, biasanya hari Sabtu. Rumahku ini memang tidak memiliki taman, tapi aku berusaha membuatnya tetap hijau dengan beberapa tanaman pot yang kutata rapi di area kosong dekat pagar. Pertukaran udara dan suhu ruangan di dalam rumahku pun normal. Bahkan teman-teman kontor yang biasa mampir ke rumahku ini selalu mengatakan kalau rumahku ini sangat nyaman untuk dibuat istirahat. Musim panas dan musim hujan pun tidak mengubah gambaran teman-temanku akan rumah ini, masih menyenangkan. Pagi, siang, sore, dan malam selalu bisa dilewati dengan baik dan tenang. Tidak ada tikus, tidak ada nyamuk, tidak ada lalat, tidak ada semut, tidak ada laba-laba, tidak ada rayap.

OK! Dari sisi rumah hunianku mungkin tidak ada masalah. Tapi bagaimana dengan lingkungan di sekitar rumahku? Kebersihannya? Orang-orangnya? Kebiasaan-kebiasaan mereka?

Buruk sekali sifatku jika sampai mencari kambing hitam atas masalahku ini. Karena mereka pun tidak bersalah, bahkan mustahil jika lingkungan tempat tinggalku ini menjadi penyebabnya. Kebersihan sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Tak ada pemandangan lain di jalan selain aspal berwarna hitam. Rumput-rumput selalu terpotong rapi begitu ada yang memanjang. Air di selokan pun mengalir lancar tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Ini semua karena kesadaran warganya akan kebersihan sudah cukup tinggi. Dengan suka rela, mereka membuang sampah pada tempatnya di masing-masing depan rumah. Tempat sampah sudah terbagi antara sampah organik dan anorganik, dan petugas kebersihan pun tak pernah lupa untuk mengambilnya setiap dua hari sekali. Setiap warga bertetangga pun tak pernah kulihat ada perselisihan yang berarti. Ketika kusapa pun yang ada adalah senyuman atau sapaan kembali untuk menambah keakraban. Sama seperti diriku, mereka pun menyukai ketenangan dan keteraturan.

Hm, mungkin tidak ada masalah di sekitar rumahku. Bagaimana dengan di lingkungan kerjaku? Siapa tahu merekalah yang memberikan dampak negatif padaku?

Ternyata tidak juga. Mereka pun tidak bersalah dan tidak mempunyai alasan yang bisa kujadikan kelemahan mereka. Aku adalah seorang pekerja kantoran, yang menghabiskan waktu di depan komputer untuk beberapa hari, berada di antara bilik-bilik kecil yang hanya dipisahkan oleh papan. Biasanya rutinitas kerja semacam inilah yang membuat gila. Namun, ternyata tidak untuk lingkungan kerjaku. Aku merasa cukup nyaman, bahkan sangat nyaman. Aku memiliki teman-teman yang menyenangkan di sekitar bilik kerjaku. Mereka senang diajak bercanda, tapi mereka pun bisa serius jika menyangkut pekerjaan. Atasanku pun bukan orang yang terlalu otoriter. Dia murah senyum dan mau menerima masukan. Bersahabat dan profesional, itulah atasanku. Saling menghormati dan tenggang rasa, bekerja keras dan kejujuran, itulah perusahaan tempatku bekerja.

Lalu sekarang siapa lagi yang patut aku curigai? Apa lagi yang pantas kujadikan penyebab debu di pikiranku ini? Tak henti-hentinya kupikirkan hal ini hingga akhirnya aku tertidur di atas kursi ruang tengah.

Ya, semenjak rasa dingin itu menyerang diriku, aku sering menghabiskan waktu-waktu kosongku dengan memikirkannya. Berbeda dengan kebiasaanku yang dulu, surat kabar dan televisi lebih sering menemaniku daripada bantal kursi. Aku berpikir, bukan melamun. Mataku tidak menerawang kosong, tapi menerawang jauh, jauh sekali ke dalam ingatanku dulu. Aku berusaha mengorek-ngorek memoriku yang sudah tercampur aduk dengan berbagai macam jenis pikiran. Aku terus mencarinya hingga ke balik tumpukan-tumpukan, ke dalam lubang, dan di antara reruntuhan-reruntuhan ingatan yang sudah porakporanda bak kapal pecah.

“Kerjaanmu sudah selesai, Pak Isman?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunan. Ya Tuhan! Saat ini aku sedang duduk diam di depan komputer kantor. Aku sedang duduk diam. Dan aku baru saja sadar kalau aku sedang berada di kantor.

Kulihat layar monitor yang menyala garang tanpa ada filter padanya itu menunjukkan padaku berderet-deret baris kalimat yang tak kusadari sejak kapan ada di sana. Aku tidak pernah merasa mengetiknya. Mungkin bukan aku, mungkin orang lain. Mungkin aku menduduki kursi yang bukan kursi kerjaku.

Aku coba menerka-nerka suara itu, siapa kiranya seorang yang membangunkanku, sebelum kubalikkan kepalaku dan melihat langsung ekspresi wajahnya yang mungkin tak akan pernah ingin aku lihat.

“Aku kira Pak Isman jadi tidak masuk hari ini,” sapanya lagi. Sama seperti sebelumnya, nadanya masih bersahabat. Dan benar, dia memang sahabatku.

Pria ini bernama Hermawan, seorang pekerja kantoran biasa sama sepertiku. Tak ada yang membuatnya istimewa melebihi siapapun yang bekerja di tiap bilik ruangan ini. Dia hanyalah seorang yang ceria dan sangat senang menyapa siapapun yang ia jumpai. Dialah yang pertama kali membuatku nyaman di ruang kerja ini.

“Jam berapa sekarang?” tanyaku seperti orang linglung, baru bangun tidur.

“Bapak kecapaian ya?” Hermawan memegang dahiku. Mungkin saat ini dia merasakan adanya perubahan suhu di permukaan telapak tangannya, atau mungkin tidak. Aku merasa baik-baik saja. Aku hanya tidak sadar sejak kapan sudah berada di tempat ini.

Hermawan melirik jam tangannya. Lengannya melayang ke depan agar matanya bisa melihat dengan jelas posisi jarum panjang dan pendek di tengah lingkaran kecil jam. Sesungguhnya aku tak perlu menanyakan waktu padanya. Aku bisa menjawab sendiri pertanyaanku itu dengan melihat jam mejaku, jam kantor yang ada di dinding, dan di jam tanganku sendiri. Aku hanya basa-basi menanyakan waktu pada Hermawan.

“Jam dua belas kurang sepuluh. Ayo ke kantin!” jawab Hermawan.

Aku tertegun. Kiranya aku sudah setengah hari di kantor dan tidak menyadari apa saja yang sudah kulakukan. Aku bangkit setelah Hermawan menepuk bahuku. Dia menyemangatiku dengan tepukan yang cukup keras, memastikan aku tidak tidur lagi. Tidur? Aku tidak tidur!

Akhirnya aku hanya mengikuti langkah Hermawan yang terlihat semakin mantap tiap harinya. Di antara semua karyawan kantor, mungkin hanya Hermawan yang selalu mensyukuri hari-harinya di sini. Setiap saat dia tak henti-hentinya mengagumi tempatnya bekerja ini, sementara yang lain mengeluh akan sesuatu yang kurang dari tempat ini, yang kadang sengaja dicari-cari kesalahannya.

“Pak Siro, istirahat dulu!” sapa Hermawan pada seorang berkaca mata yang sedang serius mengetikkan sesuatu di mejanya.

“Oh iya, terima kasih. Sebentar lagi selesai,” jawab orang itu. Sambil menjawab sapaan Hermawan, pria itu sedikit melayangkan senyumnya padaku. Aku membalasnya dengan senyum pula. “Terima kasih untuk yang kemarin ya, Pak Isman!”

Siapa? Aku? Siro mengucapkan terima kasih kepadaku? Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk, seolah aku mengetahui untuk apa anggukan itu.

Sambil berusaha mengumpulkan memori-memori yang tercecer pagi ini, aku terus mengekor di punggung Hermawan. Sementara pria itu tak hentinya menyapa setiap orang yang ia jumpai, aku pun melayangkan senyum kepada beberapa orang saja yang aku kenal. Dan akhirnya barulah kusadari bahwa hampir setiap hari aku seperti ini.

Ya, aku merasa sudah pernah melalui hal semacam ini. Tidak hanya sekali, tetapi juga sering. Sebuah rutinitas yang tak pernah henti, itulah yang terjadi. Semua yang kualami berjalan begitu saja, begitu lancar dan tenang, hingga tak kusadari keberadaannya karena begitu menyenangkan. Hampir setiap hari aku berada di kantor ini, hampir setiap siang aku pergi ke kantin, hampir setiap siang itulah seseorang selalu mengajakku.

Iklan

5 thoughts on “Di Balik Dingin Itu

  1. Cerpen ini kutulis saat aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di akhir minggu. Padahal aku tahu begitu banyak yang harus kulakukan, tapi aku merasa tidak tahu harus mengerjakan apa. Aku sering merasa… yah, bukan seorang yang seperti biasanya.

  2. Iya mbert sory ya lom nulis, ada yang masih dalam bentuk kertas, ntar tak ketik dlu. tu cerpen jaman gak enak,he2 🙂

    Yang ada di flashdisk kebanyakan mau jadi novel,he2
    Betewe q lebih ber-tema-kan”love” gpp kan?
    Q jadi minder baca cerpen u, coz kebanyakan cerpenku biasa2 ja.. hiks… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s