Aku?

Apel untukku

Apel untukku

Entah mengapa aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa mengingat kejadian apa saja yang telah aku alami. Aku tidak bisa mengingat namaku, rumahku, orang tuaku, teman-temanku, pacarku… Eh, aku sudah punya pacar atau belum ya? Kalau sudah, pasti dia begitu tersiksa dan menyesal pernah mengenalku. Mungkin dia akan menangis sejadi-jadinya dan menjadi gila. Ah, tidak! Itu terlalu sadis. Mungkin dia akan menghapusku dari ingatannya dan mencari idaman lain lagi. Sama seperti ingatan-ingatanku yang tercecer entah dimana. Aku melupakannya dan menganggapnya tak pernah ada.

Hh, aku menghela nafas keras-keras. Biar semua yang ada di ruangan putih ini mendengarnya. Aku tidak peduli pada bapak-bapak berambut putih yang terbangun gara-gara desahanku. Aku tidak peduli pada makian laki-laki bermuka preman yang berbaring di sebelahku. Dan aku lebih tidak peduli lagi pada ocehan suster perawat yang sedang mengganti kantung infusku. Dia terkejut karena aku tiba-tiba berulah setelah berjam-jam memandang kosong seperti patung.

Dengan berlalunya suster itu, maka berlanjut pula lamunanku. Ah, tidak! Aku tidak mau melamun lagi. Kalau hal ini kulanjutkan, bisa-bisa menjadi kebiasaan dan siapa pun yang melihatku akan menganggap aku sudah tidak waras. Padahal aku masih normal. Aku tidak berteriak-teriak atau menyanyi-nyanyi sendiri. Aku tidak menggoda orang lewat dan tidak tertawa sendiri saat melihat jarum jam yang berputar. Pokoknya aku masih sadar akan keberadaan diriku, walaupun sebagian besar memori yang memenuhi otakku telah tumpah dan terbawa aliran air got.

Mm, apa ini? Tanganku mendapati perban terbelit mengelilingi kepalaku. Seperti mau berangkat perang saja pakai beginian. Aku tidak mau kemana-mana kok! Aku tidak akan melarikan diri dari rumah sakit ini. Untuk apa aku memakai perban ini? Kalau seandainya kubuka saja, apa ada yang akan melarangku dan memarahiku?

“Ton, jangan!” sergah seorang laki-laki yang sedikit lebih tua dariku. Dia mendekat ke arahku dan menurunkan tanganku yang sedang bergerilya di sekitar belitan perban. “Kamu mau dimarahi suster lagi ya?” Walaupun kata-katanya tidak mengenakkan hatiku, tapi matanya menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira. Kok bisa begitu ya? Apakah aku sudah melakukan sesuatu yang hebat?

“Kamu tidak mengantuk? Kamu tidak lapar? Kamu tidak haus?” Dia memandangku begitu dalam sambil memegang erat kedua lenganku. Semua yang ditanyakannya kujawab dengan gelengan karena aku memang tidak merasakan semua itu. Dia tersenyum dan mendudukkan dirinya sendiri di atas matras tempatku berbaring saat ini.

“Kamu mungkin lupa denganku. Kamu ingat siapa aku?” tanyanya. Aku menggeleng lagi. Aku berusaha mencari-cari file nama yang tersimpan dalam folder di otakku. Tapi yang kutemukan di sana hanyalah sarang laba-laba yang lengket. Sekali lagi, aku menggeleng. Dia tersenyum dan seperti sudah mengira gerakan apa yang akan dilakukan oleh kepalaku. Menggeleng.

“Aku kakakmu. Namaku Irwan. Dan kamu adalah adikku. Namamu adalah Anton. Mengerti?” laki-laki yang ternyata terikat darah denganku itu berkata perlahan, seperti menuntunku untuk mengeja kata-kata. Aku mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah informasi penting yang harus selalu kuingat. Aku mulai mengisi pundi-pundi di dalam kepalaku dengan hal-hal yang harus kuketahui. Dan aku senang. Ternyata aku tidak sendiri dalam kekosongan ini. Namaku Anton. Dan Irwan, kakakku, akan membantuku untuk mengingat semua yang kulupakan. Akhirnya aku menemukan cahaya!

“Kamu ini dulunya nakal. Dan aku harap, di hidupmu yang baru ini, kamu menjadi orang baik-baik,” katanya sambil berjalan ke dekat meja. Dia meraih pisau?! Tidak! Apa yang akan kakakku lakukan? Atau jangan-jangan dia hanya orang lain yang mengaku sebagai kakakku?

Iklan

5 thoughts on “Aku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s