Maaf, Ayah Terlambat Pulang!

Ayah dan Anak

Ayah dan Anak

“Ayah, pulang terlambat lagi!” seru Adinda.

Diriku, yang tengah berjingkat agar tak seorang pun mendengar kedatanganku, langsung terdiam. Suara gadis itu nyaring menyentil daun telingaku yang kata orang sangat kaku ini. Suaranya muncul dari temaram lampu meja ruang tengah yang menyala kuning redup.

Kutengokkan kepalaku ke arahnya yang baru saja bersuara. Tampak seorang gadis kecil sedang terkungkung di antara tumpukan bantal kumalnya di atas kursi panjang. Matanya terpejam dengan damainya. Rupanya ia sedang tidur, dan baru saja ia menggigau. Ya, menggigaukan aku yang memang pulang terlambat… lagi.

Mau bagaimana lagi? Hanya dengan bekerja sebagai penjaga sekolah inilah yang bisa kulakukan untuk memenuhi segala kebutuhannya dan juga adik-adiknya. Sekolah menengah pertama itu dimulai jam tujuh pagi sampai jam setengah dua siang, lalu dilanjutkan sampai jam tujuh malam untuk sekolah lain yang menumpang karena baru saja menerima gusuran.

Kerjaku bertambah dua kali lipat. Sebenarnya aku sempat menolak, mengingat anak-anakku pasti selalu menanti kehadiranku di sisi mereka. Selain itu aku juga meminta orang lain untuk menjadi penjaga sekolah sore itu. Aku juga butuh istirahat, bukan? Aku bukan mesin!

Namun dasar aku ini bukan orang yang berpendirian kuat. Hanya karena rengekan seseorang yang belum kukenal namanya (dia orang dari sekolah gusuran itu), yang kuakui memang mempunyai kemampuan dalam bersilat lidah, aku iyakan juga setelah dia ungkapkan gaji tambahan untukku jika mau menjaga sekolahnya. Katanya, penjaga sekolahnya yang dulu masuk penjara karena melawan aparat ketika terjadi peristiwa penggusuran.

Jauh sekali di dalam hati kecilku, ingin sekali kugeplak dahinya yang jarang rambut itu sambil berkata, “Salah sendiri membangun sekolah di pinggir sungai! Sudah tahu berbahaya, kok ya diteruskan juga! Kalau murid sampeyan nanti kintir waktu banjir, bagaimana?”

Tapi… hahaha… akhirnya toh aku terjerat akan kebutuhanku dan anak-anakku sendiri. Aku terpaksa menuruti kemauannya hanya karena anakku sedang ingin-inginnya menjadi seorang pramugari. Ya, si Dinda, panggilan kecil Adinda, sering berkoar-koar kalau besar nanti ingin jadi seorang pramugari sebuah pesawat mahal yang pulang pergi Indonesia Amerika.

“Yah, Dinda mau jadi pramugari!” serunya tiba-tiba, sambil menyapu halaman yang kotor oleh tahi ayam tetangga. Ketika itu aku sedang mengikat tali sepatu dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.

“Oh, ya? Naik pesawat? nggak takut jatuh seperti berita di televisi itu?” tembakku padanya yang sedang berbinar-binar. Aku suka sekali menggodanya, terlebih lagi untuk melihat wajahnya yang cemberut seperti itu.

“Ayah kok begitu? Dinda kan, cuma mau pergi ke luar negeri gratis. Sama ayah, sama Jajang, sama Idin, terus ke Amerika jalan-jalan, terus…” Dinda pun terus berkhayal sambil mengayunkan sapu lidinya.

Kulihat impian Adinda begitu besar, melebihi apa yang selama ini berkutat di dalam otakku. Yang selama ini kubayangkan hanyalah Adinda yang menjadi gadis dewasa, bekerja di sebuah pabrik sepatu seperti ibunya dulu, yang kemudian menikah dengan seorang laki-laki gagah (ehm) yang bekerja menjaga sekolah. Semua ini kubayangkan karena Dinda memang mirip seperti ibunya. Matanya, nada bicaranya, genitnya, tanggung jawabnya, cekatannya, semua gerak-geriknya mengingatkanku pada istriku… yang saat ini entah di mana.

Iklan

3 thoughts on “Maaf, Ayah Terlambat Pulang!

  1. Gpp tetap semangadth! Kalah menang gak ada masalah… yang penting tetap berkarya buat bikin cerpennya ya…

    Oiya, ada lomba lagi neh cerpen/ cerber femina deadline Nov’09. Ikut yukk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s