Internet Sehat: Kota Besar [tidak] Selalu Melek Internet

Menunggu kuliah, sekitar 30 menit lagi. Aku pun memanfaatkan waktu untuk mengumpulkan bahan kuliah melalui fasilitas laboratorium komputer di kampus. Ruangan ber-AC, kursi empuk, nyalakan CPU, tunggu loading… masukkan username dan password, MASUK! Klik icon browser bergambar rubah dan siaplah aku menjelajah dunia maya. Hampir setiap hari aku berada di tempat ini. Meskipun tidak lama, tapi sering. Yah, meskipun hanya sepuluh menit, sudah banyak yang bisa kudapatkan jika menjelajah dunia maya ini.

Buka Facebook untuk periksa comment dari teman, buka Yahoo untuk cek email di inbox, buka Blogdetik untuk membuat tulisan/posting, buka Google untuk mencari bahan mata kuliah dan info-info lainnya. Hampir setiap hari aku menyempatkan diri untuk melakukan hal ini. Meskipun aku tidak ahli dalam mengetik sepuluh jari, tapi rasanya jariku sudah punya mata dan otak sendiri untuk mengetahui letak tuts keyboard a, s, d, f, j, k, l dan teman-temannya yang lain.

Apa aku bisa menganggap ini sebagai kecanduan? Ah rasanya tidak juga.

Sejak datang ke Surabaya ini, sejak menjadi mahasiswa di jurusan Sistem Informasi ITS yang tak lepas dari komputer, kegiatan seperti ini adalah suatu hal yang lazim dilakukan. Ketika pertama kali memasuki dunia yang baru ini, aku merasakan suatu kejutan kebudayaan dalam diriku. Yah, sangat berbeda di kota kelahiranku di Mojokerto. Untuk berinternet ria, aku harus mengayuh sepeda menuju warnet terdekat dan membayar beberapa rupiah sebagai tarif menjelajah internet. Sekarang semua berubah dan aku bisa menikmati internet secara gratis, tentunya tetap dalam batas kewajaran dan tanggung jawab.

Apa semuanya seperti ini di Surabaya?

Ternyata tidak.

* * *

Kemajuan Teknologi itu Penting

Kemajuan Teknologi itu Penting

Bangunan sekolah SMP berdiri dengan tenang dan damai, di depan sebuah gang kecil yang lebarnya hanya cukup untuk sebuah mobil. Suasana salah satu kelasnya juga terlihat nyaman. Di dalamnya duduk beberapa siswa yang berpasang-pasangan, kira-kira total 20 orang ditambah 2 orang guru pendamping. Masing-masing meja telah dilengkapi sebuah laptop yang bisa dipakai oleh mereka yang duduk di sana.

Mereka semua adalah peserta pelatihan komputer, sebuah kegiatan sosial yang diadakan oleh kami para penerima beasiswa. Kegiatan sosial kami ini memiliki beberapa modul pelatihan seperti pengenalan komputer, pengenalan internet, dan berkreasi menggunakan Photoshop dan Flash. Dan aku sebagai salah satu panitianya, bertugas untuk menyampaikan materi ketiga. Atmosfer keinginan untuk belajar di kelas ini sangat terasa. Tiap peserta bersemangat untuk menerima materi. Dan yang paling membuatku terkejut adalah… ini adalah hal yang baru bagi mereka, termasuk para guru pendampingnya.

Awalnya aku agak pesimis dengan ide pelatihan komputer ini karena aku kira mereka semua sudah pasti mahir. Dan anggapanku ini salah.

“Ada yang sudah punya email?” tanya temanku yang menjadi penyampai materi internet. Peserta yang mayoritas duduk di kelas 2 dan 3 itu pun menggeleng. Penyampaian materi pun dilanjutkan dengan pembuatan email. Kami memberikan pendampingan intensif dengan metode satu laptop satu pendamping. Aku pun ikut. Pertanyaan yang diajukan padaku pun bermacam-macam.

“Kenapa sih Mas, harus punya email?”

Aku menjawabnya dengan senyum. “Email itu seperti surat yang dikirim sama Pak Pos, tapi lewat internet. Jadi kalau mau kirim pesan sama saudara yang jauh, nggak perlu repot-repot beli perangko atau kirim ke kantor pos. Mas punya teman dari Sulawesi. Rumahnya kan jauh. Jadi kalau mau kirim kabar ya lewat email.”

Dua siswa di sampingku ini mengangguk-angguk.

“Makanya, kalian belajarnya yang pinter. Biar nanti bisa sekolah yang jauh. Kalau bisa ke luar negeri. Buat bangga bapak ibu. Mau?”

“Mau!”

Rasanya begitu banyak yang ingin kujelaskan pada mereka. Kami pun berbicara banyak tentang Friendster (ketika itu Facebook belum berjaya) yang membuat kita punya banyak teman. Dan Google yang bisa membantu mereka dalam menyelesaikan tugas sekolah. Ya, mengingat kurikulum pendidikan Indonesia yang mengharuskan siswa belajar lebih aktif, seharusnya siswa-siswi ini mengetahui internet sejak dini.

Agak geli juga melihat tingkah mereka yang malu-malu. Setiap mau melakukan klik harus tanya panitia dulu.

“Mas, yang ini boleh ditekan (baca: klik) ga?”

“Mas, sekarang aku buka yang mana?”

Setiap detik yang kami lalui di kegiatan itu terasa begitu berharga. Setiap penjelasan yang kami berikan harus sesuai dengan keadaan mereka agar benar-benar dimengerti dan dipahami. Dan akhirnya aku mendapatkan suatu pelajaran bahwa tidak semua masyarakat di kota besar sudah mengikuti perkembangan teknologi. Menurutku, ketidakmerataan kesejahteraan juga menyebabkan ketidakmerataan pengetahuan dan teknologi. Perlu peran serta banyak pihak untuk membuat seluruh masyarakat benar-benar mengerti akan manfaat teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

DAN YANG MEMBUATKU SEMAKIN MENGHARGAI HIDUP INI…

Aku bisa segera menyadari ketidakseimbangan ini. Semoga aku bisa selalu memiliki jalan untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.

============ Surabaya, 11 September 2009 ================

Artikel ini saya ikutkan pada Posting Pengalaman Ber-Internet Sehat, Dapat Mobile Broadband Card dan Buku Kuliner Padat yang diadakan oleh Internet Sehat. Kunjungi juga Internet Sehat @ Facebook, dan Mobile Broadband Internet
Iklan

13 thoughts on “Internet Sehat: Kota Besar [tidak] Selalu Melek Internet

  1. Ping-balik: Ini Dia Pemenang Lomba Posting “Internet Sehat”

  2. wah… bagus. cerita yang bkin melek…
    aku juga ngira semua anak di kota besar itu dah tahu cara pake internet. ternyata ga ya?
    btw, bukan musang… tapi rubah…
    keep the good article and blog ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s